Surat Tanpa Nama dari Pembantai

Headline

Sebuah surat tanpa nama beredar di media Belanda. Penulis mengaku seorang veteran yang ikut membantai penduduk Desa Rawagede di Indonesia, 1949 silam.

Surat ini dimuat oleh media RNW, yang juga tak bisa memastikan apakah surat tersebut orisinil atau tidak. Surat diterima oleh Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) tidak melalui pos, namun oleh seseorang yang mengaku mendapatkannya dari seorang veteran. Berikut isi surat itu.

Namaku tidak bisa aku sebutkan, tapi aku bisa ceritakan kepada Anda apa yang sebenarnya terjadi di desa RAWA GEDEH. 

Anda tahu, antara tahun 1945-1949, kami mencoba merebut kembali jajahan kami di Asia Tenggara. Untuk itu dari tahun 1945 sampai 1949, sekitar 130.000 tentara Belanda dikirim ke bekas Hindia Belanda, sekarang Indonesia. Di sana terjadi berikut ini:

Di Jawa Barat, timur Batavia, di daerah Krawang, ada desa Rawa Gedeh. Dari arah Rawa Gedeh tentara Belanda ditembaki. Maka diputuskanlah untuk menghajar desa ini untuk dijadikan pelajaran bagi desa-desa lain.

Saat malam hari Rawa Gedeh dikepung. Mereka yang mencoba meninggalkan desa, dibunuh tanpa bunyi (diserang, ditekan ke dalam air sampai tenggelam; kepala mereka dihantam dengan popor senjata dll).

Jam setengah enam pagi, ketika mulai siang, desa ditembaki dengan mortir. Pria, wanita dan anak-anak yang mau melarikan diri dinyatakan patut dibunuh: semuanya ditembak mati. JUMLAHNYA RATUSAN.

Setelah desa dibakar, tentara Belanda menduduki wilayah itu. Penduduk desa yang tersisa lalu dikumpulkan, jongkok, dengan tangan melipat di belakang leher. Hanya sedikit yang tersisa. Rawa Gedeh telah menerima 'pelajarannya'.

Semua lelaki ditembak mati-kami dinamai 'Angkatan Darat Kerajaan'. Semua perempuan ditembak mati-padahal kami datang dari negara demokratis. Semua anak ditembak mati-padahal kami mengakunya tentara yang kristiani.

Sekarang aku siang malam teringat Rawa Gedeh, dan itu membuat kepalaku sakit dan air mataku terasa membakar mata, terutama kalau aku teringat anak-anak yang tangannya masih terlalu pendek untuk melipat tangan di belakang leher, dan mata mereka terbelalak, ketakutan dan tak faham.
Aku tidak bisa menyebut namaku, karena informasi ini tidak disukai kalangan tertentu. Tapi mungkin dari Wamel, justru dari Wamel, akan muncul inisiatif. Aku tidak tahu bagaimana.

Wamel adalah desa di Belanda Timur, yang diserbu Jerman pada 20 September 1944. Sebanyak 14 warga sipil dibunuh secara keji oleh tentara Jerman. Di desa itu terdapat monumen peringatan. Uniknya diantara nama-nama yang tercantum, terdapat nama satu korban kekejaman perang di Hindia Belanda.

sumber

0 Response to "Surat Tanpa Nama dari Pembantai"

Post a Comment

Boleh Berkomentar Asal Tidak Menggunakan Kata Kasar,,,,,, Tx For Visit ^^


Free Updates to your Inbox
Follow us:
facebook twitter gplus pinterest rss